UwaisNews.Com – Sibolga, Bencana banjir yang melanda Kota Sibolga pada awal pekan ini kembali membuka luka lama tentang kerusakan lingkungan di kawasan perbukitan. Dalam peristiwa tersebut, air bah yang turun dari hulu tidak hanya membawa lumpur, tetapi juga menyeret potongan kayu gelondongan dalam jumlah besar. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kegiatan penebangan liar masih marak terjadi di wilayah tersebut.
Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai menyebutkan bahwa derasnya arus disertai batang-batang kayu besar menjadi salah satu penyebab kerusakan rumah dan infrastruktur. Banyak bangunan yang terdorong hingga roboh karena hantaman kayu gelondongan yang turun bersama air. Menurut warga, kondisi seperti ini baru terjadi beberapa tahun belakangan, tepat setelah aktivitas pembukaan lahan dan penebangan hutan semakin meningkat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga membenarkan bahwa temuan kayu dalam jumlah besar merupakan sinyal kuat adanya kerusakan berat di kawasan hulu. Mereka menyatakan bahwa hilangnya vegetasi penahan air akibat penebangan liar menyebabkan permukaan tanah tidak lagi mampu menahan hujan deras, sehingga air langsung mengalir deras ke pemukiman warga.
“Jika hutan di bagian atas terus dibabat, maka volume air akan meningkat setiap kali hujan. Kayu-kayu yang ditebang dan ditinggalkan begitu saja ikut terseret arus dan memperparah dampak banjir,” ujar seorang petugas BPBD yang terlibat dalam proses evakuasi.
Selain itu, sejumlah pemerhati lingkungan menilai bahwa bencana kali ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah untuk memperketat pengawasan terhadap aktivitas illegal logging. Mereka menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas agar kerusakan tidak semakin meluas dan risiko bencana dapat diminimalkan di masa mendatang.
Hingga kini, pembersihan material banjir masih dilakukan di sejumlah titik, sementara warga berharap pemerintah segera melakukan penelusuran ke kawasan hulu untuk memastikan penyebab utama rusaknya lingkungan. Bagi masyarakat Sibolga, banjir kali ini bukan sekadar bencana alam, tetapi juga cerminan buruknya pengelolaan hutan yang selama ini diabaikan.
Red/Irma




