UwaisNews.Com – Jakarta, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan nasional pada Tahun 2025, hanya dalam waktu satu tahun sejak dilantik. Capaian tersebut dinilai sebagai bukti nyata kerja keras kabinet serta soliditas seluruh elemen pemerintahan.

“Waktu saya dilantik menjadi Presiden, saya menargetkan empat tahun swasembada beras dan pangan. Saudara-saudara bekerja keras, bersatu, kompak, dan hasilnya dalam satu tahun kita sudah swasembada. Kita sudah berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Presiden Prabowo pada 7 Januari 2026.

Menanggapi hal tersebut, 98 Resolution Network melalui salah satu pemrakarsanya, Eli Salomo Sinaga, menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo–Gibran telah membuktikan komitmen politiknya dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.

“Kita telah berhasil mencapai swasembada beras dalam waktu tidak kurang dari satu tahun. Ini bukan sekadar janji politik, tetapi hasil kerja nyata. Kami optimistis Indonesia akan mencapai swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. Together we will rise,” ujar Eli Salomo.

Menurut Eli, komitmen kuat Presiden Prabowo dibuktikan melalui berbagai kebijakan strategis, salah satunya Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 73/Kpts./OT.050/M/02/2025 tentang Satuan Tugas Swasembada Pangan. Satgas tersebut bekerja hingga tingkat kabupaten/kota dan petugas lapangan dengan strategi utama peningkatan produksi melalui optimalisasi seluruh sumber daya lahan serta dukungan SDM yang kompeten.

“Pemerintah juga melakukan terobosan regulatif untuk menghapus hambatan birokrasi yang selama ini menghambat produksi pangan nasional, mulai dari perencanaan, koordinasi, pelaksanaan hingga evaluasi menyeluruh program swasembada,” jelas Eli Salomo yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Persaudaraan 98.

Ia memaparkan sejumlah dampak nyata kebijakan tersebut, antara lain penurunan harga pupuk hingga 20 persen, peningkatan volume pupuk mencapai 700 persen seiring pembangunan tujuh pabrik pupuk baru, serta pencabutan 2.300 izin usaha sektor pertanian yang melanggar aturan dan memainkan harga. Bahkan, sebanyak 192 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pangan.

Selain itu, luas lahan pertanian pada periode Oktober–Desember 2025 tercatat meningkat sekitar 500 ribu hektare dibandingkan tahun 2024. Dari sisi produksi, berdasarkan data Kementerian Pertanian, ekspor sektor pertanian Indonesia pada 2025 melonjak 33 persen, stok pangan nasional mencapai 3,2 juta ton, serta Nilai Tukar Petani (NTP) menembus angka 125,35, tertinggi sepanjang sejarah.

Eli Salomo juga menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan serapan gabah dan beras nasional tahun 2026 mencapai 4 juta ton, sebagai bagian dari penguatan swasembada pangan berkelanjutan. Target tersebut didukung penambahan anggaran hingga Rp39 triliun. Sebagai perbandingan, Bulog pada 2025 berhasil menyerap 3,2 juta ton beras.

Dukungan langsung kepada petani juga dinilai sangat signifikan, terutama kebijakan Presiden Prabowo yang menetapkan harga gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini memberikan kepastian dan insentif ekonomi bagi petani.

“Kaum tani sekarang wis gumuyu lan gemoy. Kebijakan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani,” tegas Eli.
Dengan komitmen kuat tersebut, Eli Salomo yakin kebijakan impor pangan yang selama ini menekan petani akan dapat diatasi. Indonesia kembali berdiri di atas kaki sendiri.

“Seperti ditegaskan Presiden Prabowo, masalah pangan adalah masalah kedaulatan, kemerdekaan, dan survival bangsa,” tutup Eli Salomo

Sumber : Eli Salomo Sinaga
Red/Irma